Zat padat adalah sebuah objek yang cenderung mempertahankan bentuknya ketika gaya luar mempengaruhinya. Karena kepadatannya itu, bahan padat digunakan dalam bangunan yang semua strukturnya komplek yang berbentuk. Susunan zat padat merupakan kumpulan dari atom, electron, dan inti atom, proton dan neutron dan quark.
 Bahan padat dapat diklasifikasikan berdasarkan keteraturan susunan atom-atom atau ion-ion penyusunnya. Bahan yang tersusun oleh deretan atom-atom yang teratur letaknya dan berulang (periodik) disebut bahan kristal. Dikatakan bahwa bahan kristal mempunyai keteraturan atom berjangkauan panjang. Sebaliknya, zat padat yang tidak memiliki keteraturan demikian disebut bahan amorf atau bukan-kristal. Perbedaan susunan Kristal dan amorf dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Bahan kristal, untuk yang selanjutnya cukup disebut kristal (saja), dapat dibentuk dari larutan, lelehan, uap, atau gabungan dari ketiganya. Bila proses pertumbuhannya lambat, atom-atom atau pertikel penyusun zat padat dapat menata diri selama proses tersebut untuk mrenempati posisi yang sedemikian sehingga energi potensialnya minimum. Keadaan ini cenderung membentuk susunan yang teratur dan juga berulang pada arah tiga dimensi, sehingga terbentuklah keteraturan susunan atom dalam jangkauan yang jauh, inilah yang mencirikan keadaan kristal.
Sebaliknya, dalam proses pembentukan yang berlangsung cepat, atom-atom tidak mempunyai cukup waktu untuk menata diri dengan teratur. Hasilnya terbentuklah susunan yang memiliki tingkat energi yang lebih tinggi. Susunan atom ini umumnya hanya mempunyai keteraturan yang berjangkauan terbatas, dan keadaan inilah yang mencerminkan keadaan amorf. Dalam bahan amorf, jangkauan keteraturan atom biasanya sampai tetangga kedua.
Di antara kedua kristal sempurna (tunggal) di satu pihak, dan keadaan omorf di pihak lain, terdapat keadaan yang disebut polikristal (kristal jamak). Zat padat pada keadaan ini tersusun oleh kristal-kistal kecil. Bila ukuran kristalnya dalam ukuran orde mikrometer, bahan yang bersangkutan termasuk kristal mikro (microcrystalline); dan bila ukuran kristalnya dalam orde nanometer, maka bahannya digolongkan sebagai kristal nano (nanocrystalline).
Secara umum, perbedaan Kristal dan amorf dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Partikel-partikel zat padat begitu erat terikat satu sama lain karena adanya suatu gaya tarik menarik yang terjadi antara partikel-partikel tersebut. Jenis ikatan atom pada zat padat antara lain :
1.1.1 Ikatan Ionik
Ikatan ionik terbentuk karena adanya gaya tarik-menarik elektrostatik (Coulomb) antara ion positif dan ion negatif. Terbentuknya ion-ion tersebut disebabkan oleh terjadinya transfer elektron antar atom-atom yang membentuk ikatan. Beberapa contoh kristal ionik antara lian : NaCl, CsCl, KBr, NaI, dst. Untuk NaCl, elektron pada atom Na ditransfer kepada atom Cl :
Selanjutnya, ion Na+ dan ion Cl yang dalam keadaan gas berikatan satu sama lain dan membentuk kristal dengan melepaskan energi kisi (kohesi) sebesar 7,9 eV :
                                           (1.1.)
Apabila ion Na+ dan ion Cl berdekatan pada jarak r, besarnya energi (potensial) tarik-menarik Coulomb adalah :
Εcoul = −e2 / 4επor                                                                 (1.2.)
dengan e muatan listrik ion dan εo permitivitas hampa. Gaya tarik-menarik ini tidak mengakibatkan kedua ion terus mendekat, sampai jarak yang sedekat-dekatnya, karena orbital-tertutup yang terisi penuh elektron pada masing-masing atom juga saling berdekatan. Sebagai akibatnya, timbul gaya tolak antar elektron pada orbital atom, sebagai konsekuensi larangan Pauli. Besarnya energi tolak-menolak (repulsif) dapat diungkapkan sebagai berikut :
Erop = A/rn
atau
: Erop = B exp (-r/ρ)                                                     (1.3.)
A, B dan ρ adalah tetapan, sedangkan n = 12. Dalam persamaan (1.3) terlihat bahwa energi tolak-menolak menurun dengan cepat dengan bertambahnya jarak antar ion. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi tolak-menolak tersebut adalah berjangkauan pendek, terutama bila dibandingkan dengan interaksi elektrostatik Coulomb. Dengan demikian, setiap ion hanya “merasakan” interaksi tolak-menolak dengan ion tetangga terdekatnya saja.
Di pihak lain, dalam interaksi elektrostatik setiap ion akan berinteraksi baik dengan ion tetangga terdekatnya maupun dengan ion tetangga berikutnya, karena interaksi ini berjangkauan lebih jauh. Dengan ini kita perlu memperhitungkan pengaruh tetangga yang lebih jauh tersebut dalam perhitungan energi interaksinya. Perhatikan kembali gambar 1.1a. Anggap bahwa ion di pusat kisi (di pusat ruang kubus) adalah ion Na+ , sebagai ion acuan yang ditinjau. Ion-ion yang mengelilingi ion Na+ tersebut adalah seperti ditunjukkan pada tabel 1.1.
Dengan mengggunakan data tersebut, besarnya energi elektrostatik setiap pasangan ion dapat dituliskan sebagai berikut :
                                                 (1.4.)
α disebut tetapan Madelung. Untuk selanjutnya, α merupakan karakteristik kisi terutama untuk kristal ionik, karena nilainya bergantung pada struktur kristal yang bersangkutan. Berikut ini dapat dibandingkan nilai α untuk beberapa kristal ionik :

NaCl : α = 1,748
ZnS : α = 1,638
CsCl : α = 1,736

Gambar 1.1 Empat tampilan kisi sel satuan garam meja (NaCl) : a. Sel satuan secara umum,
b. Konfigurasi oktahedral, setiap atom dikelilingi 6 atom tetangga terdekat,
c. Susunan mampat, dan d. Susunan atom pada salah satu bidang sisi kubus.
Gambar 1.2.
Berdasarkan persamaan (1.2) dan (1.3) di atas selanjutnya dapat dibahas lebih lanjut perumusan energi kisi. Untuk itu diambil contoh kristal NaCl, lihat gambar 1.1. Ion-ion Na+ dan Cl berada pada keadaan seimbang pada jarak keseimbangan ro, yaitu jarak terdekat antara ion Na+ dan Cl pada gambar 1.1 a dan d. Besarnya energi total sebagai fungsi jarak antar ion :
E(r) = Ecoul + Erep = -αe2/4πεor + B exp (-r/ρ)                                                    (1.4.)
Energi kisi adalah energi total pada r = ro. Dalam grafik pada gambar 1.2, E (ro ) adalah nilai energi keseimbangan pada titik minimum dari kurva E(r). Hal ini berarti turunan pertama dari E(r) terhadap r pada r = ro adalah sama dengan nol. Jadi,                                                                                                   dE(r)/drrr = 0= (αe2/4πεoro2) -B/ρ) exp (-r0/ρ)
menghasilkan :
B = (αρe2/4πεoro2) exp (ro /ρ)                                                    (1.5.)
Masukkan nilai ini ke pers. (1.4), diperoleh :
E = -(αe2/4πεor2) [1 - (rρ/ro2) exp {(ro-r)/ρ}]                                          (1.6.)
pada keadaan seimbang, r = ro, didapatkan ungkapan bagi energi kisi :
Ekisi = -(αe2/4πεoro) [1 - (ρ/ro)]                                       (1.7.)
                 Terlihat pada persamaan terakhir ini bahwa nilai energi kisi bergantung pada tetapan Madelung, sementara itu nilai tetapan ρ biasanya hanya beberapa persen dari nilai ro. Mott dan Gurney melaporkan bahwa ρ = 0,345 angstrom untuk 20 macam kristal ionik alkali-halida. Distribusi elektron di sekitar ion pada kristal NaCl ditunjukkan pada gambar 1.3. Angka-angka yang tersaji pada kontur menunjukkan konsentrasi relatif elektron di lokasi yang bersangkutan.
Gambar 1.3. Distribusi rapat elektron pada bidang dasar kristal NaCl. Konsentrasi relatif elektron ditunjukkan oleh angka-angka yang tercantum.
Gambar 1.4. Energi molekul hidrogen (H2) sebagai fungsi jarak antar atom.


1.1.2. Ikatan Kovalen
                 Ikatan kovalen, sering disebut ikatan valensi atau homopolar, dibangun oleh sepasang elektron dari dua atom yang berikatan. Setiap atom menyumbang sebuah elektron untuk membentuk sebuah ikatan kovalen. Elektron-elektron yang membentuk ikatan tersebut bersifat lokal (hanya terdapat) di daerah antara dua atom, menempati orbital ikatan (σ) dengan spin yang berlawanan arahnya (anti-paralel). Untuk membahas secara lebih rinci tentang mekanisme pembentukan ikatan ini diperlukan teori kuantum yang lebih lanjut, sehingga tidak di sajikan dalam catatan ini demi penyederhanaan. Karena memerlukan teori kuantum inilah, maka ikatan kovalen sering juga disebut ikatan kuantum.
Molekul hidrogen (H2) merupakan contoh molekul dengan ikatan kovalen yang paling sederhana, perhatikan gambar 1.4. Keadaan ikatan paling kuat terjadi bilamana spin kedua elektron saling anti-paralel (state S). Sewdangkan apabila keadaan spinnya parelel (state A), kedua atom hidrogen berada pada keadaan anti-ikatan; atom-atom saling menolak, karena elektron-elektronnya saling menjauhi (ingat prinsip larangan Pauli).
                      Gambar 1.5 Distribusi konsentrasi elektron valensi di sekitar atom Ge dalam kristal germanium

Ikatan kovalen termasuk ikatan yang kuat. Ikatan pada dua atom karbon dalam kristal inti membentuk struktur tetrahedral, artinya setiap atom karbon dikelilingi oleh 4 buah atom karbon tetangga terdekat. Kristal lain yang temasuk dalam struktur intan adalah kristal silikon dan germanium. Arah ikatan kovalen nampak jelas dalam ruang tetrahedral, misalnya untuk kristal germanium, lihat gambar 1.5. Dalam gambar ini, distribusi elektron pada daerah di skitar atom-atom yang berikatan kovalen diwakili oleh angka-angka pada kontur yang bersangkutan.

1.1.3. Ikatan logam
Logam dicirikan oleh tingginya konduktivitas listrik dan termal, banyak mengandung elektron bebas yang dapat bergerak diseluruh kristal. Elektron valensi yang dimiliki oleh setiap atom logam, akan menjadi elektron bebas bila atom-atom tersebut membentuk Kristal logam. Sebagai contoh, perhatikan atom natrium (11Na) dengan konfigurasi elektron dalam orbital atom sebagai berikut :
11Na : 1s2-2s2-2p6-3s1
Gambar 1.6 Struktur ikatan logam. Ikatan antar teras atom yang dikelilingi oleh elektron-elektron bebas

Orbital atom yang terisi penuh elektron bersama-sama inti atom membentuk teras atom (core). Dalam kristal logam, teras-teras atom saling berkaitan, dan elektron valensi menjadi elektron bebas (satu elektron untuk setiap teras Na). Dalam gambar ini, ikatan logam dapat dipandang sebagai kumpulan teras atom dalam “lautan” elektron bebas. Lihat gambar 1.6.

1.1.4. Ikatan Van der Waals
Gas-gas inert (He, Ne, Ar, dst) dapat membentuk kristal-kristal sederhana. Kristal tersebut umumnya transparan, bersifat isolator, berikatan lemah dan memiliki titik leleh yang sangat rendah. Bila diperhatikan, atom-atom gas ini memiliki orbital valensi yann terisi penuh elektron, sehingga elektron-elektron valensi tidak lagi memungkinkan untuk membentuk ikatan. Lalu, gaya apakah yang membuat atom-atom tersebut dapat bertahan dalam menyusun kristal ?
Atom-atom gas inert dapat mengalami distorsi yang sangat kecil pada distribusi elektronnya dalam orbital kulit penuh yang berbentuk simetri bola. Meskipun kecil, penyimpangan ini cukup mengubah atom-atom menjadi dipol-dipol listrik. Interaksi antar dipol inilah yang menghasilkan gaya tarik-menarik yang disebut gaya Van der Waals. Gaya ini sangat lemah, dan energi interaksinya memiliki bentuk :
        EVDW = -A/r6 (1.8.)                                                            (1.8.)
A tetapan dan r jarak antar atom. Untuk menjaga agar atom-atom berada dalam keseimbangan, pada jarak yang sangat dekat akan terjadi gaya tolak-menolak sebagai akibat berlakunya prinsip larangan pauli (lihat gambar ikatan ionik) yang menghasilkan energi tolak-menolak :
                                                            Erep = B/r12 (1.9.)                                                          (1.9.)
Dengan demikian bentuk lengkap energi interaksi dalam ikatan Van der Waals adalah :
                    E(r) = -A/r6 + B/r12 (1.10.)                                                (1.10.)
Persamaan (1.10) dirumuskan lebih lanjut oleh Lennard-Jones dalam bentuk :
                                        E(r) = 4ε[(σ/r)12 - (σ/r6]                                                       (1.11.)
dan disebut energi potensial Lennard-Jones. Besaran ε dan σ adalah parameter yang dapat ditentukan dari eksperimen. Selain pada gas-gas inert/mulia, ikatan Van der Waals juga ditentukan pada kristal molekul-molekul organik.

1.1.5. Ikatan Hidrogen
Karena hanya memiliki sebuah elektron, atom hidrogen hanya dapat berikatan dengan sebuah atom lain. Akan tetapi, keadaan tertentu, sering dijumpai bahwa atom hidrogen dapat pula berikatan cukup kuat dengan dua buah atom lain. Pada keadaan demikian terbentuklah ikatan hidrogen di antara atom-atom tersebut dan atom H dengan energi ikat 0,1 eV. Dalam ikatan hidrogen, atom H bersifat sebagai ion positif terutama bila berikatan dengan atom-atom yang elektronegatif, seperti F, O dan N.
Gambar 1.7.   Susunan kristal es (H2O padat), setiap atom oksigen dikelilingi oleh 4 atom H. Jarak antar atom 0-0 terdekat 2,76 angstrom dan antara atom-atom H-O 1,75 angstrom dan H-H 1,01 angstrom. Bandingkan dengan jarak antar atom H-O dalam molekul air 0,96 angstrom.

Ikatan hidrogen berperanan penting dalam interaksi antar molekul H2O, dan bersama-sama interaksi elektrostatik dari dipol-dipol listrik (H2O molekul polar) berperanan dalam pembentukan molekul air dan kristal es; perhatikan gambar 1.7.

1.1.6. Ikatan Campuran

a. Ionik-kovalen
Ikatan ionik yang sempurna dapat terbentuk pada suatu molekul bilamana atom-atom yang terlibat dapat membentuk ion-ion yang elektropositif dan elektronegatif kuat. Syarat ini terpenuhi oleh molekul ionik alkali-halida, oleh karena atom-atom alkali dan halida memiliki kecenderungan yang kuat untuk melepaskan dan menerima elektron. Bagi atom-atom yang kurang keelektropositifan dan keelektronegatifannya, transfer elektron kation ke anion kurang dari 100%. Sebagai contoh, logam-logam transisi (golongan B) memiliki energi ionisasi yang lebih besar daripada logam alkali, sehingga perak-halida (AgX) kurang ionik dibandingkan alkali-halida. Dapat didefinisikan :
                                                                         (1.12.)
λ adalah parameter derajad keionikan yang di ungkapkan menurut persamaan :
                                                                                         (1.13.)
ψψψ,,koviondan berturut-turut menyatakan fungsi gelombang elektron terikat, fungsi gelombang ikatan kovalen dan fungsi gelombang ikatan ionik.
b. Kovalen - Van der Waals
                 Ikatan campuran antara kovalen dan Van der Waals banyak ditemmukan pada kristal molekul. Pada gambar 1.8 ditunjukkan kristal telurium (Te) dan grafit (C), yang masing-masing mengandung ikatan kovalen dan ikatan Van der waals. Ikatan kovalen terjadi antara atom-atom Te yang membentuk spiral, sedangkan pada kristal grafit, ikatan kovalen terjadi antar atom-atom C pada satu lapis tertentu, serta ikatan Van der Waals terjadi antar lapisan (gambar 1.8b).
Gambar 1.8. Kristal dengan ikatan campur kovalen-Van der Waals; a. Krsital telurium, ikatan antar atom di sepanjang rantai kovalen dan ikatan antar rantai Van der Waals, b. Kristal grafik c. Ikatan antar atom di setiap lapisan adalah kovalen, sedangkan ikatan antar lapisan adalah Van der Waals.




DAFTAR PUSTAKA

Mata melihat hijau
Telinga mendengar ungu
Hati merasa biru...

Mata menatap kedatangan si Amin
Telinga dengar itu suaranya si Maria
Hati berkata "mari slamat datang kawan"

Mata menjauhi api
Telinga mencari keberadaan air
Hati membawakan air untuk api...

Mata suka terang
Telinga suka musik merdu
Hati hanya suka kedamaian..

Mata bilang ramai
Telinga bilang bising
Hati bilang hampa...

Mata hebat melihat
Telinga jeli mendengarkan
Hati bisa melihat dan mendengarkan...


Mata sakit  bisa buta
Telinga terganggu bisa tuli
Hati luka, tubuh remuk..
KEGIATAN PEMBELAJARAN DI SMK MARSUDI LUHUR II DAN KAITANNYA DENGAN PENGGUNAAN MULTIMEDIA
Oleh : Lusiana Sandra Oey 

     Ada pepatah yang mengatakan “ala bisa karena biasa” yang dapat diartikan jika ingin mahir maka harus terbiasa melakukannya terlebih dahulu. Dengan demikian Program Pengalaman Lapangan (PPL) disediakan oleh universitas untuk membantu mahasiswa keguruan berlatih di sekolah nyata dalam mempersiapkan dirinya menjadi guru yang lebih baik nantinya. Dalam kesempatan ini, mahasiswi berkesempatan melaksanakan PPL di SMK Marsudi Luhur II yang beralamat di jalan Bintaran Kidul no.6 Yogyakarta. PPL dilaksanakan dengan sistem sebaran kurang lebih selama empat bulan antara bulan Juli – Desember 2012.
SMK Marsudi Luhur II memiliki gedung 3 lantai; lantai dasar untuk tempat praktek dan bengkel kerja, lantai dua untuk ruang kelas X, ruang guru, serta perpustakaan dan lantai tiga untuk ruang kelas XI dan XII. Halaman tengah merupakan lahan kosong yang biasa digunakan untuk tempat parkir sepeda motor. Gedung SMK Marsudi Luhur II Yogyakarta bediri di atas tanah seluas 3747 m2. Secara fisik sekolah ini memiliki gedung yang permanen dan cukup memadai. Lokasinya bersebelahan dengan SMK Marsudi Luhur I dan SMA Marsudi Luhur serta pemukiman warga.
Pendidikan yang diselenggarakan adalah bidang keahlian :Teknik Elektro dengan program keahlian : Teknik Audio Video dan bidang keahlian : Teknik Mesin dengan program keahlian : Teknik Mekanik Otomotif. Program ini dipilih Karena keterserapan lulusan di Perusahaan dan Industri dari kedua program keahlian di atas yang terbesar prosentasenya, demikian juga peluang untuk mandiri atau berwirausaha sangat banyak dibutuhkan oleh masyarakat.
Sistem pendidikan menggunakan sistem semester seperti halnya sekolah-sekolah lain, sedangkan dalam penyelenggaraan pendidikan menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dimulai pada tahun 2006/2007. Pengajar di SMK Marsudi Luhur II Yogyakarta berjenjang pendidikan sarjana  (S-1) dan diploma (D-3) yang berstatus sebagai pegawai tetap dan pegawai tidak tetap. Keseluruhan berjumlah 38 guru dan 15 karyawan. Jumlah siswa ada 363 orang, dengan jumlah siswi hanya 2 orang.
Fasilitas yang ada di ruang kelas yaitu meja dan kursi guru, meja dan kursi siswa, papan tulis (white board), penghapus papan tulis, papan informasi, papan visi dan misi sekolah, dan speaker yang terhubung dari kantor guru. Fasilitas multimedia yang disediakan adalah proyektor, viewer, dan komputer.
Visi penggunaan multimedia mengacu pada visi sekolah yaitu mempersiapkan tamatan yang berkualitas yang siap masuk dunia kerja baik tingkat nasional, regional maupun internasional serta mempersiapkan tamatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kegiatan guru secara umum adalah mengajar di dalam kelas yang dimulai pada jam pelajaran pertama sampai jam pelajaran terakhir dengan lama 1 jam pelajarannya yaitu 45 menit. Setiap hari pelajaran dimulai pukul 07.00 WIB. Pada hari Senin pelajaran berakhir pukul 13.30 WIB dan berlaku untuk semua kelas. Hari Selasa, Rabu dan Kamis pelajaran berakhir pukul 13.30 WIB bagi siswa kelas XII dan berakhir pukul 12.45 WIB bagi siswa kelas X dan XI, hari Jum’at berakhir pada pukul 11.30 WIB, dan hari Sabtu pada pukul 12.45 WIB. Disamping mengajar, beberapa guru ditugaskan untuk menjadi guru piket secara bergantian setiap harinya dan bertugas untuk mengawasi ketertiban siswa.
Setelah mengobservasi aktifitas guru dan siswa di beberapa kelas praktikan melihat bahwa dalam proses belajar mengajar, kebanyakan guru lebih sering menggunakan metode ceramah aktif. Khusus untuk pelajaran fisika, guru sama sekali tidak pernah menggunakan multimedia dalam pembelajaran. Guru seringnya memberikan pelajaran kemudian memberikan latihan soal kepada siswa dan di akhir pembelajaran memberikan kesimpulan dan catatan serta terkadang memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.
Guru dan beberapa siswa saling berinteraksi dengan baik oleh karena guru selalu memberikan kesempatan bagi siswa untuk menanggapi maupun bertanya tentang materi yang baru saja dijelaskan oleh guru. Beberapa siswa lainnya kerap tidak memperhatikan guru,sibuk sendiri dan bahkan ribut. Untuk siswa-siswa seperti ini, guru biasanya langsung menegur atau menghampiri dan menegurnya dengan santai. Sesekali guru bergurau, kelas ramai sebentar dan kemudian guru melanjutkan pembelajaran.
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mengenai hukum Newton di kelas X, praktikan mencoba menggunakan multimedia berupa laptop, proyektor, dan sebagai viewernya di kelas digunakan white board berhubung di tiap kelas tidak tersedia viewer secara khusus. Praktikan juga menampilkan slide power point berupa ringkasan materi yang dibuat menarik dan menggunakan gambar dan animasi bergerak sebagai pengantar untuk masuk ke dalam inti materi kemudian memberikan berbagai pertanyaan untuk memancing siswa berpikir mengenai materi yang akan diberikan. Praktikan juga melaksanakan pembelajaran yang kontekstual, dan untuk itu pula digunakan demonstrasi-demonstrasi baik yang bisa dilakukan secara langsung di kelas maupun dilihat pada demonstrasi yang ditampilkan dari komputer.
Interaksi baik juga terjadi antara siswa dan praktikan. Siswa terlihat antusias mengikuti pembelajaran dan aktif menjawab ketika ditanyai seputar gambar-gambar dan animasi,demonstrasi maupun simulasi yang ditampilkan. Siswa pun diminta memberikan kesimpulan mengenai fenomena yang ditampilkan. Di akhir pembelajaran, untuk menguji kemampuan siswa terhadap materi yang baru saja dipelajari, praktikan selalu mengadakan kuis. Hasilnya sangat memuaskan sampai ketika kuis lisan pun siswa bisa menyebutkan dengan baik. Guru pembimbing memberikan respon positif terhadap media yang digunakan praktikan. Ini merupakan pengalaman positif yang didapatkan oleh praktikan. Namun di luar daripada itu, adapula hambatan-hambatan yang juga ditemukan, salah satunya yaitu beberapa siswa kerap ribut di kelas dan mengganggu siswa yang lainnya dan praktikan terkadang sulit untuk menanganinya.
Dengan hal positif yang didapatkan ketika praktikan menggunakan multimedia pada pembelajaran di kelas ini, praktikan setuju bahwa multimedia bisa meningkatkan prestasi belajar fisika siswa SMK Marsudi Luhur II dan bisa saja untuk siswa-siswa di sekolah lain yang sudah jenuh dengan metode ceramah yang digunakan oleh gurunya terus-menerus. Selain itu dengan menggunakan multimedia bisa membuat siswa lebih bersemangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran, pembelajaran pun tidak menjadi kaku serta guru pun bisa mengkomunikasikan maksud materi dengan baik.
Sejauh ini kelemahan dalam penggunaan multimedia yang ditemukan oleh praktikan yaitu jika alat multimedia yang digunakan mengalami masalah, maka pembelajaran untuk hari itu harus dilaksanakan dengan strategi lainnya. Selain itu jika media yang ditampilkan misalnya simulasi yang tidak menarik kadang membuat siswa menjadi tidak tertarik untuk memperhatikan sehingga maksud guru tidak tersampaikan secara baik. Jika menggunakan simulasi pun, siswa harus disuruh mencoba sendiri sehingga bisa mengingat secara baik dibanding dengan hanya memperhatikan saja, namun kenyataannya waktu yang tersedia untuk PBM tidak mungkin cukup jika semua siswa disuruh mencoba di depan kelas.
Media yang bisa dirancang oleh praktikan antara lain percobaan sederhana yang bisa dilakukan di kelas contohnya gelas diletakkan di atas kertas kemudian kertas ditarik secara cepat dan terlihat gelas tetap pada posisi mula-mula, ini untuk menjelaskan hukum I Newton. Media berikut handout siswa berisi ringkasan materi yang diberi gambar-gambar mengenai fenomena yang terjadi terkait materi, latihan-latihan soal, dan kata-kata motivasi untuk siswa untuk bisa meningkatkan minat belajarnya.
Praktikan juga bisa merancang demonstrasi-demonstrasi sederhana untuk dilakukan di kelas dan tidak lupa melibatkan siswa. Contohnya demonstrasi dua oramg siswa yang saling dorong namun tetap mempertahankan posisi masing-masing sehingga tidak ada yang terjatuh untuk menjelaskan hukum Newton ketiga.
Pembuatan slide power point selain berisi ringkasan materi, juga berisi gambar-gambar dan animasi yang menarik bagi siswa sehingga siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran.
Media yang terakhir yaitu pembuatan LKS untuk simulasi tertentu dan siswa ditugaskan untuk mengerjakannya. Hal ini dipelajari praktikan ketika mengikuti perkuliahan di kampus. Untuk pelaksanaannya pun harus menyiapkan waktu khusus terlebih dahulu.
Berbagai media jika digunakan secara tepat dalam menyampaikan maksud guru terkait materi pembelajaran maka akan membawa hasil yang baik untuk prestasi siswa sendiri. Dan untuk itu penggunaan media juga harusnya dioptimalkan dengan sering menggunakaannya dan dikembangkan sesuai perkembangan kebutuhan siswa akan media itu sendiri.

    

­­

            
Marie Sklodowska Curie (Polandia-Perancis, 1867-1934) menikah dengan Pierre Curie (Perancis, 1859-1906) dan siap memulai kehidupan seorang peneliti dengan meneliti sinar Becquerel sebagai tema penelitian untuk mendapatkan gelar akademik. Pierre yang saat itu sudah menjadi salah satu peneliti terkemuka bermaksud membantu istrinya dengan menyarankan pemakaian alat ukur arus yang sangat sensitif (Galvanometer Feebles). Marie Curie menggunakan alat ukur arus yang sangat sensitif dan melakukan pengukuran secara kuantitatif radioaktivitas (kemampuan melepaskan radiasi) dari materi yang dapat ia peroleh. Hanya materi yang mengandung uranium atau thorium yang menunjukkan radioaktivitas. Berdasarkan pengukuran secara kuantitatif diketahui bahwa radioaktivitas berbanding lurus dengan jumlah uranium atau thorium, sedangkan suhu serta bentuk kimia dari materi tidak berpengaruh. Tetapi disinipun teramati sesuatu yang di luar dugaan. Dua bahan tambang uranium yaitu pitch blend (uranium oksida) dan shell corit (tembaga dan uranil) menunjukkan radioaktivitas yang besar yang tidak dapat dijelaskan dengan jumlah uranium yang ada di dalamnya. Marie Curie mencampur shell corit dengan bahan lain dan kemudian melakukan pengukuran. Ternyata hanya bagian yang mengandung uranium yang menunjukkan adanya radioaktivitas. Fakta ini dilaporkan di Akademi Sains Paris bulan April 1898. Marie Curie berpikir bahwa di dalam batuan uranium alam terdapat unsur yang belum diketahui dalam jumlah yang sangat sedikit, dan setelah itu ia lebih serius lagi menemukan unsur radioaktif yang belum diketahui. Pierre kemudian berhenti melakukan penelitiannya sendiri untuk bekerja sama dengan Marie menemukan unsur baru. (Pierre terus melakukan penelitian radioaktivitas sebelum meninggal pada tahun 1906 karena kecelakaan). Batuan dalam jumlah besar dilarutkan dan dilakukan pemisahan dengan prosedur analisis kimia. Radioaktivitas dari bagian yang terpisah diukur dengan alat ukur listrik yang dikonsentrasikan pada bagian yang memiliki radioaktivitas tinggi. Unsur radioaktif yang belum diketahui itu menunjukkan sifat yang mirip dengan bismuth. Bagian yang terambil ini ternyata merupakan campuran antara bismuth sulfat dan bahan radioaktif dalam bentuk sulfat. Pemisahan antara bismuth dan unsur yang belum diketahui itu dapat dilakukan berdasarkan perbedaan sifat sublimasinya. Bahan campuran itu dipanaskan dalam vakum pada suhu 700° C dan dibiarkan menyublim, dalam suhu 250°-300° C bahan radioaktif dalam bentuk sulfat itu menempel pada dinding seperti cat berwarna hitam. Beginilah cara penemuan salah satu unsur radioaktif yang belum diketahui. Pada Juni 1898 laporan atas nama suami-istri Curie disampaikan kepada Akademi. Dalam laporan ini diusulkan nama Polonium untuk unsur baru sesuai dengan nama negara kelahiran Marie Curie. Dari analisis juga ditemukan adanya radioaktifitas yang kuat di dalam kelompok barium, secara kimiawi sifatnya sama dengan barium. Pemisahan bagian yang memiliki radioaktivitas dengan cara pemisahan kristal berdasarkan perbedaan kelarutan dalam air, campuran air dan alkohol, kelarutan garam dalam larutan asam klorida. Dengan cara seperti inilah unsur radioaktif radium ditemukan. Penemuan ini dipresentasikan pada bulan September 1898 sebagai hasil penelitian bersama suami-istri Curie dan rekan sekerja Pemon. 
http://baca-kata.blogspot.com/2011/04/penemuan-polonium-dan-radium.html

2. Sumber.Polonium adalah unsur alam yang sangat jarang. Bijih uranium hanya mengandung sekitar 100 mikrogram unsur polonium per tonnya. Ketersediaan polonium hanya 0.2% dari radium.Pada tahun 1934, para ahli menemukan bahwa ketika mereka menembak bismut alam (209Bi) dengan neutron, diperoleh 210Bi yang merupakan induk polonium. Sejumlah milligram polonium kini didapatkan dengan cara seperti ini, dengan menggunakan tembakan neutron berintensitas tinggi dalam reaktor nuklir.

3. Sifat-sifat.Polonium 210 memiliki titik cair yang rendah, logam yang mudah menguap, dengan 50% polonium menguap di udara dalam 45 jam pada suhu 55oC. Merupakan pemancar alpha dengan masa paruh waktu 138.39 hari. Satu milligram memancarkan partikel alfa seperti 5 gram radium.Energi yang dilepaskan dengan pancarannya sangat besar (140 W/gram); dengan sebuah kapsul yang mengandung setengah gram polonium mencapai suhu di atas 500oC. Kapsul ini juga menghasilkan sinar gamma dengan kecepatan dosisnya 0.012 Gy/jam. Sejumlah curie (1 curie = 3.7 x 1010Bq) polonium mengeluarkan kilau biru yang disebabkan eksitasi di sekitar gas.Polonium mudah larut dalam asam encer, tapi hanya sedikit larut dalam basa. Garam polonium dari asam organik terbakar dengan cepat; halida amina dapat mereduksi nya menjadi logam.


4. Kegunaan.Karena kebanyakan radiasi alfa dihentikan di sekitar bahan padat dan wadahnya, melepaskan energinya, polonium telah menarik perhatian untuk digunakan sebagai sumber panas yang ringan sebagai sumber energi termoelektrik ada satelit angkasa.Polonium dapat dicampur atau dibentuk alloy dengan berilium untuk menghasilkan sumber neutron. Unsur ini telah digunakan dalam peralatan untuk menghilangkan muatan statis dalam pemintalan tekstil dan lain-lain; bagaimanapun, sumber beta termasuk yang paling sering digunakan karena tingkat bahayanya yang lebih rendah. Polonium yang digunakan untuk tujuan ini harus tersegel dan terkontrol, untuk mengurangi bahaya terhadap pengguna.


5. Isotop.Ada 25 isotop polonium yang diketahui, dengan massa atom berkisar dari 194 – 218. Polonium-210 adalah yang paling banyak tersedia. Isotop dengan massa 209 (masa paruh waktu 103 tahun) dan massa 208(masa paruh waktu 2.9 tahun) bisa didapatkan dengan menembakkan alfa, proton, atau deutron pada timbal atau bismut dalam siklotron, tapi proses ini terlalu mahal.Logam polonium telah dibuat dari polonium hidroksida dan senyawa polonium dengan adanya ammonia cair anhidrat atau ammonia cair pekat. Diketahui ada dua modifikasi alotrop.


6. Penanganan.Polonium-210 sangat berbahaya untuk ditangani meski hanya sejumlah milligram atau mikrogram. Diperlukan peralatan khusus dan kontrol yang ketat untuk menanganinya. Kerusakan timbul dari penyerapan energi  partikel alfa oleh jaringan makhluk hidup.Batas penyerapan polonium maksimum lewat jalan pernafasan yang masih diizinkan hanya 0.03 mikrocurie, yang sebanding dengan berat hanya 6.8 x 10-12 gram. Tingkat toksisitas polonium ini sekitar 2.5 x 1011 kali daripada asam sianida. Sedangkan konsentrasi senyawa polonium yang terlarut yang masih diizinkan adalah maksimal 2 x 10-11 mikrocurie/cm3


Substansi radioaktif yang ditemukand di rokok adalah polonium-210, sebuah material radioaktif yang memancarkan partikel berbahaya bernama partikel alfa. Ketika perokok menghisapnya, partikel ini bekerja bersama karsinogen lain untuk mendorong percepatan perusakan terhadap paru-paru dan tentu saja menimbulkan kanker. Untuk lebih jelasnya tentang polonium dalam rokok.